1.19.2010

Penemuan Fosil di Logas-Kuansing

Baru-baru ini, ditemukan fosil jutaan tahun di Sungai Singingi, Kecamatan Logas, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing). Riau mungkin harus menulis ulang sejarahnya pasca ditemukannya fosil dari zaman prasejarah di Logas itu. Beberapa benda yang diperkirakan berusia jutaan tahun itu ditemukan oleh tim peneliti dari Pusat Studi Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Tim peneliti yang beranggotakan beberapa arkeolog, sejarawan, peneliti budaya, dan ahli geologi itu bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi Riau. Pusat Studi Kebudayaan UGM dan Disbudpar Riau bekerja sama menyusun kebijakan tentang budaya lokal daerah yang akan dijadikan Rencana Induk Pengembangan Kebudayaan Melayu.

Ketua tim, Dr Widya Nayati MA, dalam jumpa pers di Hotel Aryaduta, Pekanbaru, Selasa (12/8) malam, mengatakan, hasil temuan tim selanjutnya akan dibawa ke Yogyakarta untuk dikaji lebih mendalam secara akademis.

“Tapi ini tetap milik Riau dan UGM, dan kita harap museum di sini menyimpannya,” ungkap Widya.

Temuan berupa kapak perimbas, penetak, serpih, dan serut oleh tim dari UGM ini membatalkan fakta lama yang meletakkan Candi Muara Takus sebagai tonggak awal sejarah kebudayaan Riau. Usia batu fosil itu diperkirakan berasal dari zaman Pleistosen.

Dari hasil analisa geologis UGM, Agus Trihascahyo ST.SS.MSc, batuan memiliki kekerasan hingga 7 pada skala mosh.

“Sebagai ukuran, berlian memiliki kekerasan 10 pada skala mosh,” ujar Agus.

Untuk usia pasti dari benda-benda itu, Agus belum dapat memastikan. “Kami tidak menggunakan absolute dating untuk memastikan usia. Tapi menggunakan relatives dating,” imbuhnya.


Menurut Agus, relatives dating, adalah penentuan umur sebuah benda berdasarkan tingkat teknologi benda itu sendiri. Dengan dasar itu, dapat diperoleh perkiraan budaya paleolitiknya. Selanjutnya, dengan dasar tingkat budayanya, tim memperkirakan benda prasejarah itu milik pithecanthropus, atau mungkin homo sapiens.

Tetapi, Widaya maupun Agus masih belum dapat memberikan keterangan pasti perihal manusia pemilik benda itu. Pasalnya, sejauh ini tim belum menemukan fosil manusia.

“Ini butuh pencarian lanjutan,” ungkap Agus.

Agus menekankan, saat ini yang paling dibutuhkan adalah pengamanan lokasi temuan dari peneliti asing. maupun perusakan oleh masyarakat lokal. Selain kelanjutan penelitian.

Menurut Widya, temuan merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya bagi dunia arkeologi.

“Tidak hanya Riau, bahkan Asia dan dunia,”ujar Widya yang juga ahli spesialis budaya perdagangan abad ke-17.

Riau saat ini menjadi provinsi ketiga yang memiliki kekayaan prasejarah. Penemuan benda prasejarah pertama di Sumatera menurut Widya adalah di Lahat, Sumsel, kemudian Kalianda, Lampung, dan Logas Kuansing, Riau.

Perlu Bukti LainSejarawan Riau Suwardi MS berpendapat penemuan itu perlu dikomparasikan dengan temuan purbakala yang ada di Trinil, pusat temuan manusia purba di Indonesia. Logas selama ini terkenal sebagai penghasil batu akik. Belum tentu benda-benda yang ditemukan adalah hasil karya manusia purba.

“Bisa jadi batu yang menyerupai kapak disebabkan pecahan alam atau dipecah perajin akik,” ujarnya, Kamis (13/8).

Profesor yang termasuk lima tokoh referensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang kebudayaan Melayu ini menegaskan perlu bukti lain untuk menyatakan temuan di Logas merupakan peninggalan prasejarah. Untuk memperkuat temuan perlu ada bukti lain berupa tengkorak atau bagian tubuh manusia purba.

Suwardi mencontohkan penemuan di Trinil. Penemuan yang menjadi tolok ukur manusia purba dunia ini awalnya ditemukan dalam bentuk bagian tubuh. Sementara peralatan dan perkakas yang mereka gunakan ditemukan di kemudian hari. (sumber: Tribun Pekanbaru)
Reaksi:

1 komentar: