4.09.2011

Gates: Pasukan AS Masih Berada di Irak Setelah 2011

Menteri Pertahanan AS, Robert Gates ketika mengunjungi Kamp Marez di Mosul Irak (8/4). Pada kunjungannya di hari jadi ke-8 jatuhnya Irak, Gates mengatakan bahwa AS akan menjamu sebuah jangkauan luas permintaan dari Irak untuk memperpanjang keharidan  pasukan AS. (Foto: Getty Images)
MOSUL, Irak (Berita SuaraMedia) – Menteri Pertahanan AS Robert Gates, mengunjungi Irak pada malam hari jadi kedelapan jatuhnya Baghdad, mengatakan pada hari Jum'at (8/4) bahwa AS akan menjamu sebuah jangkauan luas permintaan dari Irak untuk memperpanjang keharidan  pasukan AS. Setelah pertemuan dengan Massoud Barzani, presiden semi-otonomi di kawasan Kurdi bagian utara Irak, Gates mengatakan kepada para reporter bahwa orang-orang Kurdi tertarik dalam sebuah perpanajangan kehadiran militer AS, walaupun pemerintah pusat di Baghdad telah secara publik mengindikasikan bahwa pihaknya percaya bahwa pasukan keamanan Irak dapat berdiri sendiri setelah keberangkatan terjadwal AS pada 31 Desember.
"Saya memiliki kesan bahwa ada ketertarikan, sehingga saya berharap bahwa para pemimpin Irak akan berkonsultasi dan membiarkan kita tahu satu cara atau yang lainnya," Gates menagtakan. Gates mengatakan bahwa ia memberitahu pihak Kurdi begitu juga para pemimpin senior Sunni dan Syiah di Baghdad, "waktu hampir habis".
Segera sebelum Gates berbicara, pasukan Irak mengempur sebuah kamp pengasingan yang selama bertahun-tahun ditutup oleh pemerintahan Irak, dan kedua pihak melaporkan korban di dalam serangan tersebut. Gates tidak dengan segera yakin jumlah korban dalam serangan tersebut.
"Saya mendesak pemerintahan Irak untuk menunjukkan pengekangan dan menyesuaikan dengan komitmen mereka untuk memperlakukan penduduk Ashraf sejalan dengan undang-undang Irak dan kewajiban internasional," Gates mengatakan kepada para reporter.
Kemudian Gates terbang ke Abu Dhabi untuk pembicaraan malam hari dengan Putera Mahkota Mohammad bin Zayed Al-nahyan, yang adalah deputi pimpinan pasukan bersenjata Uni Emirat Arab. Gates diharapkan untuk berterima kasih kepada Putera Mahkota karena keputusan UEA mendukung sebuah kampanye militer internasional untuk melindungi penduduk sipil di Libya berusaha untuk menggulingkan orang kuat Libya, Moammar Gaddafi. Mereka juga membahas gelombang pemberontakan yang sedang popular yang menyapu seluruh dunia Arab.
Semua pasukan AS dijadwalkan keluar dari Irak pada akhir tahun ini di bahwa sebuah perjanjian yang dinegosiasikan pada tahun 2008 oleh pemerintahan Presiden George W. Bush. Namun hal tersebut menjadi jelas selama kunjungan dua hari Irak bahwa sebuah perpanjangan semakin mungkin – meskipun ada pengulangan pernyataan publik oleh Perdana Menteri Irak Nouri Al-Maliki dan para pejabat Irak lainnya bahwa pasukan AS tidak lagi dibutuhkan.
Para pejabat AS, termasuk sedikitnya beberapa pejabat militer papan atas, percaya bahwa Irak memiliki celah besar di dalam kemampuan pertahannya, termasuk kurangnya kekuatan udara untuk mempertahankan kawasan udaranya sendiri. Mereka melihat hal ini sebagai sebuah resiko, dalam ketidakhadiran pasukan AS, sehingga upaya politik dan keamanan yang telah dicapai selama delapan tahun terkahir dapat terlepas.
Dalam pidatonya kepada pasukan AS di Kamp Marez, Gates mengatakan bahwa dalam pembicaraannya dengan sebuah jangkauan penuh para pejabat papan atas Irak, mereka telah mengindikasikan sebuah ketertarikan di dalam perpanjangan kehadiran pasukan AS.
"Kami terbuka untuk hal tersebut," Gates mengatakan. "Dengan jelas akan menjadi sebuah kehadiran sebagian kecil dari yang kita miliki di sini sekarang."
Ia menyebutkan jumlah apapun, namun baru-baru ini ada sekitar 47.000 pasukan AS di negara tersebut.
Satu tentara ditanya Gates berapa lama AS akan tetap di sana jika diminta.
"Maka hal tersebut akan menjadi bagian dari negosiasi apapun," Gates menjawab.
Ia mengatakan bahwa hal tersebut bisa jadi untuk "jangka waktu yang terbatas" pada sejumlah pasukan yang disetujui, atau bisa saja menjadi sebuah fase penarikan selama dua atau tiga tahun melebihi 2011.
Atau, ia mengatakan, bisa jadi sebuah peranan AS jangka panjang untuk memberi saran dan bantuan pasukan keamanan Irak "hal tersebut menjadi bagian dari hubungan umum militer ke militer." Hal tersebut nampaknya menjadi sebuh rujukan untuk pengaturan seperti mereka yang telah ada di Jepang dan Korea selama lebih dari 50 tahun, yang di dalamnya pasukan AS berpangkalan di sana untuk melatih pasukan lokal dan bertindak sebagai sebuah penghalau regional.
Perjalanan tersebut adalah yang ke-13 ke Irak sebagai pimpinan Pentagon. Ia mengatakan kepada pasukan AS pada hari Kamis bahwa perjalanannya kemungkinan besar adalah kunjungan terakhirnya ke negara yang di dalamnya pasukan Amerika menginvasi pada bulan Maret 2003. Baghdad jatuh pada 9 April 2003
Reaksi:

0 komentar: